Sunday, October 16, 2011

Isu Camar Bulan dan Hubungan Indonesia – Malaysia

Oleh N. Syamsuddin Ch. Haesy

Tuduhan yang juga didukung oleh bekas Presiden Megawati Soekarnoputri, itu bagian dari kepentingan partai pembangkang menyerang Presiden SBY. 


ISU ehwal Malaysia mencuri tanah di Camar Bulan – Tanjung Datu, hanyalah isu semasa yang tidak berpengaruh terhadap sikap dan kebijakan Indonesia tentang sempadan di sana. Isu itu mengemuka dari bekas May. Jendral Hasanuddin, anggota parlemen dari Fraksi PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan), dan Machfudz Siddik dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).




Kedua-dua MP dari partai ultra nasionalis dan ultra Islam, itu sengaja dilakukan untuk menyerang pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Presiden sendiri, menyerahkan soalan tersebut kepada Menteri Koordinator Politik – Hukum – Keamanan (Polhukam), bekas Jendral TNI Joko Suyanto, yang sudah pula membantah isu tersebut.

Tuduhan yang juga didukung oleh bekas Presiden Megawati Soekarnoputri, itu bagian dari kepentingan partai pembangkang menyerang Presiden SBY. Bekas Presiden Megawati Soekarnoputri, menaruh dendam tak sudah terhadap Presiden SBY, karena dua kali kalah teruk dalam pertandingan di Pemilihan Umum 2004 dan 2009. Dalam setiap terlontar isu tentang berbagai hal yang dapat memancing friksi antara Indonesia – Malaysia, bekas Presiden itu selalu menuduh Presiden SBY takut.

Sedangkan tuduhan yang dilakukan oleh wakil Sekretaris Jendral PKS, lebih karena saat ini Presiden SBY sedang merencanakan reshuffle kabinetnya. Diduga, 4 (empat) menteri dari partai beraliran Wahabi, ini terkena reshuffle. Selama ini, kader-kader PKS memang seringkali melontar isu yang tak sesuai dengan pandangan dan sikap Presiden SBY, serta sebagian besar rakyat Indonesia.
Isu terkait sempadan Camar Bulan hanyalah isu semasa. Isu yang biasa dilontarkan oleh rakan kongsi Pakatan di Malaysia (PKR, DAP, PAS) untuk selalu memperburuk hubungan kedua negara. Sikap Presiden SBY, pemerintah, dan sebagian ramai rakyat Indonesia jelas: menempuh cara-cara diplomasi dan mufakat bagi penyelesaian masalah sempadan.

Hubungan baik Presiden SBY dengan PM Muhammad Najib (dan juga dengan Pak Lah), diikuti oleh kekariban hubungan organisasi kemasyarakatan Islam di Indonesia (Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Mathla’il Anwar, Pemuda Muhammadiyah, Gerakan Pemuda Anshor, Himpunan Mahasiswa Islam, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, Pelajar Islam Indonesia) dengan NGO Malaysia. Hubungan mesra itu juga dibangun oleh ISWAMI (Ikatan Setiakawan Wartawan Malaysia Indonesia).
Ormas-ormas Islam Indonesia, itu berbeda paham dengan PKS. Kader-kader ormas Islam itu, tersebar di berbagai partai politik: Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai Amanat Nasional, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Kebangkitan Bangsa, dan partai lain yang moderat.

Isu semasa semacam dilontar oleh Hasanuddin dan Machfudz Siddik, itu memang mendapat respons dari beberapa media massa di Indonesia, yang kurang mendapat pengetahuan jernih tentang sempadan. Terutama media massa yang berada di bawah pengaruh kalangan tertentu yang berbina hubungan dengan pemimpin Pakatan Rakyat. Isu-isu yang dilontarkan mereka, baik di Malaysia maupun Indonesia, selalu sama.

Mulai dari pemilihan umum yang bersih, sempadan, sampai ke soal urban labor.
Karena isu semasa itu bukan isu utama dan tidak berpengaruh besar terhadap hubungan rakyat kedua negara, maka berbagai kalangan di Indonesia, selalu berusaha menjernihkan masalah. Masyarakat Indonesia memerlukan informasi yang banyak tentang keadaan sebenarnya kehidupan politik dan demokrasi di Malaysia. Mereka perlu mengetahui dan memahami lebih luas dan jernih, sebenar fakta dinamika politik Malaysia.

Untuk mengatasi berbagai soalan semacam ini, sejumlah kalangan di Indonesia, pun telah meminta Presiden SBY untuk berbicara dengan Perdana Menteri Muhammad Najib. Termasuk membicarakan perubahan dan penyegaran ahli eminent person group Indonesia – Malaysia. Mereka meminta Presiden SBY mengutus kalangan lebih muda dan segar untuk menjadi ‘jejantas’ hubungan kedua negara. Terutama dari kalangan wartawan, budayawan, ormas, dan kalangan generasi muda.

Kita mengharapkan, Presiden SBY dan Perdana Menteri Muhammad Najib, merespon dan mengakomodir harapan itu. Penyegaran ahli eminent person group yang lebih mampu menguatkan hubungan kedua negara dan mengeliminir isu-isu negatif semasa, penting maknanya bagi menguatkan hubungan kedua negara. |

N. Syamsuddin Ch. Haesy adalah CEO Jurnal Nasional, wartawan utama Indonesia, penasehat ISWAMI Indonesia, penggiat keakraban hubungan masyarakat Indonesia – Malaysia. Pemerhati politik Indonesia dan Malaysia.