Thursday, July 28, 2011

Ormas Malaysia Bertukar Pikiran dengan PBNU

Sekitar tigapuluhan anggota rombongan dari berbagai macam ormas Islam Malaysia melakukan kunjungan ke PBNU untuk bertukar fikiran dan pengalaman dalam menjalankan organisasi untuk kemajuan bersama di masa mendatang.

Ketua PBNU Ir H Iqbal Sullam menjelaskan, hubungan antara Indonesia dan Malaysia sudah lama terjalin karena memiliki akar rumpun yang sama, yaitu bangsa Melayu. Bahasa Melayu yang merupakan cikal bakal dari bahasa Indonesia telah menjadi pemersatu bagi terwujudnya Indonesia.

Kerjasama erat yang telah berjalan selama berabad-abad ini harus terus dijalankan di masa mendatang untuk menghadapi berbagai tantangan zaman.

Hal yang sama disampaikan Rizal Sudirman, pimpinan rombongan yang juga merupakan senator di Malaysia. Ia sepakat kerjasama keduabelah fihak ini harus terus berjalan. “Kerjasama ini harus ditingkatkan untuk menghadapi tantangan baru,” katanya.

Syaiful Hadi, putra KH Idham Chalid yang juga wartawan senior Antara mengemukakan, kerjasama awal telah dibentuk antara wartawan Indonesia dan Malaysia, terutama setelah adanya keluhan setiap ada konflik kecil antara dua negera tersebut, media Indonesia selalu memuatnya besar-besaran.

Ia menjelaskan, sejauh ini upaya kerjasama ormas Indonesia dan Malaysia telah membuahkan hasil, diantaranya adanya pelatihan bagi para pemuda Malaysia selama tiga bulan di pesantren.

Salah satu peserta juga menyatakan apresiasinya atas kemampuan bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan bangsa, tetapi mampu menyatukan diri dalam sebuah negara bangsa bernama Indonesia. Demikian juga, Malaysia perlu belajar banyak tentang demokrasi di Indonesia.

Dari sharing tersebut, beberapa persoalan yang harus diatasi bersama diantaranya adalah persoalan radikalisme dan liberalisme, yang dialami Indonesia dan Malaysia.

Salah satu perwakilan Perkumpulan Dakwah Islamiyah Malaysia mengatakan banyak orang Malaysia yang mengirimkan anaknya untuk belajar di pesantren di Indonesia, tetapi kini kebingungan mencari informasi pesantren seperti apa yang terlibat dalam tindakan terorisme dan mana yang bukan.



Sumber: NU Online